Menyikapi Utang Bank
Didi
Hits: 50

Di sebuah meja judi, dadu terus menampilkan bidang merah secara berturut-turut dalam 7 kali lemparan. Anda berpikir mesti ada kekuatan dahsyat yang ada dibalik ini, yang maha mengatur. Sehingga dengan gegabah anda ikut pasang taruhan untuk hasil yang sama pada putaran selanjutnya. Tapi sayang, pada putaran ini anda sial. Anda langsung menderita kerugian karena dadu menampilkan bidang hitam.

Apakah dadu bisa diatur untuk bergerak? Tentu tidak. Apakah tampilnya bidang merah dalam 7 kali putaran secara berturut-turut adalah sebuah kebetulan?. Jawabnya Iya. Jika kita mampu menjawabnya demikian, mengapa kita cenderung masih ingin bertaruh?. Itu disebut dengan deformation profesionel. Hal ini yang menjelaskan mengapa kita secara berlebihan menggunakan aplikasi semacam Ms Excel dalam bisnis. Tapi kita tidak bicara itu. Kejadian di meja judi itu murni sebuah kebetulan. Maka demikianlah kenyataannya. Tidak ada yang dapat mengendalikan dunia ini. Mekanisme timbal balik yang begitu rumit yang terjadi dalam setiap kejadian di hidup manusia mustahil untuk dicari jawaban tunggal. Semua dalil/alasan berperan aktif dalam menciptakan sebuah kejadian. Beberapa alasan adalah salah sekaligus benar.

Namun kejadian di meja judi tersebut adalah sebuah kebetulan terbatas/probabilitas. Kemungkinannya hanya berkisar diantara fifty-fifty. Sedangkan kejadian yang terjadi di dunia ini dalam hidup kita adalah kejadian yang lebih rumit lagi, disebut dengan ambiguitas. Ambiguitas yang didorong ke probabilitas kita bisa jumpai pada asuransi; karena banyak juga penyakit yang sama disebabkan faktor hereditas atau lainnya; atau usia harapan hidup manusia indonesia tentu berbeda dengan usia harapan hidup rata-rata orang jepang.

Kalau anda developer real estate, anda tentu bertanya bagaimana saya mensikapi hutang bank? KYG misalnya. Apakah dia hanya resiko yang ada probabilitasnya? Atau sebuah ambiguitas. Jawabannya gampang; bagi bank itu adalah resiko yang ada probabilitasnya karena bank menganut collateral base (berbasis agunan tanah), namun bagi developer itu adalah murni ambiguitas. Terlebih developer yang menyerahkan produk jualannya pada mekanisme pasar. Jadi apakah anda tetap berhutang KYG?

Adi Haryadi

Leave your comments

Comments

  • No comments found