Ilusi Aksi
Didi
Hits: 43

Andrea Pirlo dengan tenang melangkah ke depan gawang, meletakkan bola di titiknya kemudian dengan dingin melesakkan bola ke mulut gawang tanpa bisa bisa dicegah oleh kiper. Skor 2-1 untuk AC Milan. Tapi tunggu dulu!, kemana Sang Maestro menembakkan bola?. Kemana pula sang kiper yang trengginas terbang meliukkan tubuh dengan indah?; ternyata bola disarangkan ke tengah gawang, sedangkan sang kiper terbang sampai jauh ke arah kiri gawang. Setelahnya itu sang kiper menyesali karena salah mengantisipasi arah bola.

Kita pun memaklumi karena mustahil menebak arah bola andai sekalipun kita sudah benar, saking cepatnya bola. Yang dahsyat lagi tanggapan kita adalah demikian mungkin; dia sudah berusaha maksimal buktinya dia telah terbang ke kiri dengan mengagumkan. Sang Kiper yg berdedikasi!. Saya membayangkan yg lain; Bagaimana jika sang kiper tadi tetap berdiri di tengah seperti patung alias diam saja tanpa bergerak walaupun arah bola ke kanan gawang dia tetap tak bergeming di tempatnya. Apa tanggapan kita? Sang Kiper yang pemalas. Sayang sekali.. Salahkah dia yang hanya diam saja di tengah gawang?. Jawaban saya; sepenuhnya tidak salah. Bukankah peluang untuk bola dilesakkkan ke tengah gawang sama dengan peluangnya dilesakkan ke kiri atau ke kanan? 33,33 Persen ke kiri; 33,33 Persen ke tengah; 33,33 Persen juga bisa ke kanan. Sang Kiper menguasai ilmu peluang (probabilitas), ujar saya pasti. Jadi mengapa kiper harus terbang ke kiri atau kekanan? Bukan diam saja di tengah?. Jawabannya adalah OPINI UMUM. Supaya tidak malu, atau agar terlihat berusaha atau bekerja tidak peduli kadang usaha/tindakan itu malah berakibat fatal. Kita jarang sekali duduk dengan tenang memikirkan persoalan dengan tenang dengan menyediakan waktu yang cukup untuk reflektif. Budaya bisnis kita mendewakan berpikir cepat dan bertindak cepat, tak peduli hasilnya asal kita kita bertindak cepat. Tentu saja hasil lebih penting!

Zaman sudah berubah, refleksi lebih penting dari aksi. Tapi kita kadang masih membawa kebiasan meramu dan berburu nenek moyang kita. Dahulu di zaman batu, kalau kita diam saja maka kita akan berada di perut macan gigi pedang, jadi lebih baik lari ikuti teman lainnya mencari selamat. Toh jika salah sekalipun, hanya beberapa kalori saja yang hilang. Taruhannya kecil. Tapi di abad 21 ini masih ada juga manusia yang mengaku modern masih ‘meramu’ dan ‘berburu’ tak terkecuali saya. Kita adalah Phitecantropus Erectus yang mengenakan setelan jas mewah & gaun indah serta mengendarai mobil mewah.. Maaf, demikianlah faktanya. Menyedihkan.

Adi Haryadi

Leave your comments

Comments

  • No comments found